Opini: Return of The Condor Heroes (Film Yoko)

Pernah nonton film ini? yap! film ini kini sedang tayang di salah satu stasiun tv swasta. Film ini sebenarnya pernah tayang pada zaman dulu dengan pemain pertamanya yang terkenal Andy Lau. Film ini memang menarik, hanya sayangnya saat ini saya tidak akan membahas tentang betapa menariknya film ini, tapi kita akan coba lihat dari sisi pandang lainnya.

Perhatikan dialog-dialog ini:

perempuan A : “Aku ingin membunuh Ye luchi, aku ingin membalaskan dendam kedua orang tua ku yang dibunuh olehnya. Dendam ini harus terbalaskan, bila aku tidak mampu maka lebih baik aku mati”

Yoko: “Orang bilang, pendekar sejati 10 tahun baru balas dendam pun tidak masalah. Aku akan membantumu membunuh ye lu chi dan membalaskan dendammu”

perempuan A : “Tapi, ilmu kungfu ye luchi begitu tinggi, bagaimana aku bisa mengalahkannya”

Yoko: “Aq akan mengajarkanmu tiga jurus”

perempuan A: “Tapi bagaimana bila jurus ini tidak berhasil”

Yoko: “Bukankah itu yang kau inginkan, lebih baik mati daripada tidak mampu membalas dendam

beberapa saat setelah yoko mengajarkan jurus……

Perempuan B : “Hei, bodoh, kau menyukai perempuan cantik itu ya”

Yoko : “Tidak, aq hanya merasa mirip seperti dia, orang tuaku dibunuh, tapi sayang aq tak tahu harus balas dendam ke siapa

Perempuan B: “Aq juga sama seperti dia, aku punya dendam yang belum terbalaskan, malah aq terpaksa harus melayaninya seumur hidup. Tapi lihat saja, suatu hari nanti dendam ini harus terbalaskan”

Kemudian pada situasi lainnya…

Laki-laki A: “Lihat itu limochou, dia begitu keji, mari kita bertarung melawan dia”

……….

Yang ingin saya perlihatkan adalah, bukan tentang begitu peliknya atau begitu menariknya cerita ini, tapi lihat betapa membahayakannya film ini.

sekali saya katakan MEMBAHAYAKAN. Kenapa?

Kesan yang didapat dari film hanyalah, tidur, makan, bertarung, cari kitab kungfu, balas dendam, pacaran. Bahkan tokoh protagonisnya pun (Yoko) yang seharusnya bisa menjadi contoh yang baik juga ingin bunuh orang juga ingin balas dendam. Seakan hidup ini isinya cuma tidur, makan, silat, bertarung, pacaran. Isi film ini banyak menceritakan tentang dendam, usaha membunuh, dan seakan semua hal selesai dengan bertarung. Seakan membunuh adalah suatu hal sepele, seakan balas dendam adalah hal lumrah. Bisa ga dibayangkan bila tontonan ini terus dilihat anak kecil. Belum lagi yoko yang akhirnya pacaran sama gurunya, sama bibinya sendiri.

Mereka (penonton anak-anak) akan mendapat kesan, balas dendam itu wajib, “yoko aja balas dendam”. Kemudian anak kecil itu akan mendapat pengetahuan baru soal bunuh membunuh. Tidakkah film ini memberi efek yang buruk? Ketika berkelahi itu biasa, balas dendam itu lumrah.

Kesimpulannya: saya sangat berharap tontonan dengan efek seperti ini bisa ditiadakan dan diganti dnegan sebuah acara yang lebih memberi nilai manfaat. Ingat anak kecil meniru apa yang orang dewasa lakukan, apa yang idolanya lakukan, mereka akan bergaya seperti itu. Jadi mengapa tak bisa kita suguhkan sebuah tontonan yang lebih tinggi nilai kemanusiaannya untuk mereka.  Mungkin memang dunia hiburan tidak mengenal idealisme, hanya menyajikan apa yang masyarakat inginkan. Tapi ini menjadi pilihan bagi para  director acara TV swasta tersebut ingin sebuah kehancuran atau sebuah kemajuan?

Hal ini dapat dianggap sepele bagi beberapa pihak “Ah lebay, efeknya ga segitunya kok..” tapi bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? dan jangan menunggu kehancuran moral baru kita bilang “ini gara-gara tontonan tv nih….”

- Rizka

Mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung :). Hanya opini.

About these ads

4 comments on “Opini: Return of The Condor Heroes (Film Yoko)

  1. Makanya di film ini kan tertulis R-BO (Remaja dan Bimbingan Orang Tua). Contoh kan tidak harus selalu baik, contoh yang jelek jg perlu tetapi tidak untuk ditiru, ya kan?????.

    • kalau bisa kasih contoh baik kenapa harus dikasih contoh buruk? lagipula itu ditayangkan sore hari, kayaknya anak-anak akan dnegan mudah nonton. Pertanyaan saya, efektif kah tulisan R-BO dll itu? seberapa banyak sih yang menerapkan teori itu? kenyataan sekitar saya sih, itu sekedar teori.

  2. ahhh … mmg ada yg krg bagus di film itu, tp spt umumnya cerita lain ada juga sisi baiknya kok, sikap yo ko yg suka menolong tanpa pamrih, kecerdasannya, dan …. kesetiaaanya pd siauw liong lie……. anak saya – msh remaja – justeru menonton krn ada sifat baik itu lho,…..

    • hum, kalau mau berbicara sisi baik, pasti ada. tapi mana efek yang lebih besar? kita ga pernah tau…

      lagipula bukankah lebih bijaksana membuat tontonan yg minim efek buruknya sama dibanding tontonan yg punya efek buruk?
      apakah ada tontonan tanpa efek buruk? adalah… tontonan kayak discovery channel, talkshow kesehatan, talkshow apapun lah..,
      untuk anak-anak bisa nontn kartun, bisa kuis pelajaran, bisa talkshow pelajaran, atau apapun..

      gambling ga sih ngasih tontonan buruk ke anak2? kalau dia dapet baiknya, kalau jeleknya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s